Oleh: Hasan Asyhari, M.Pd.
Pembangunan
nasional yang baik dan berkelanjutan bagi sebuah negara merupakan upaya untuk
memaksimalkan peluang menuju masyarakat yang lebih maju dan sejahtera. Menurut
data dari Bank Dunia, setidaknya terdapat tiga aspek mendasar yang harus
terpenuhi dalam pembangunan nasional yakni, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.
Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi tantangan yang kompleks dalam
mencapai pembangunan nasional, terutama dalam hal ketimpangan ekonomi,
ketersediaan fasilitas kesehatan, dan pemerataan akses pendidikan.
Dalam
konteks pendidikan, pembangunan nasional di Indonesia tidak hanya mencakup
tentang bagaimana meningkatkan kemampuan individu saja, akan tetapi merupakan sebuah
fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan
berkelanjutan, pembangunan fasilitas kesehatan yang inklusif, ketahanan pangan
yang kokoh, serta stabilitas politik yang terjamin. Maka dari itu, terdapat
istilah yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan tonggak utama dalam
pembangunan bangsa.
Indonesia
sebagai negara kepulauan yang luas memiliki komposisi penduduk yang tersebar
dan tidak terpusat di daerah perkotaan saja. Berdasarkan data dari BPS
diperkirakan hanya 59,3% penduduk saja yang tinggal di wilayah perkotaan dan
memiliki akses yang cukup baik untuk memperoleh layanan pendidikan. Hal ini
berarti, hampir separuh dari total penduduk Indonesia tinggal tersebar di luar
wilayah perkotaan yang memiliki akses pendidikan yang belum terjamin. Terlebih,
sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah yang tergolong masuk dalam
kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Menurut
Kemendikbudristek, dijelaskan bahwa daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan
Terluar) merupakan wilayah dengan kualitas pembangunan relatif rendah, di mana
masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan daerah lain secara nasional, serta
secara geografis berada di daerah terdepan dan terluar Indonesia. Berdasarkan
Perpres No. 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal 2020-2024,
terdapat 62 kabupaten yang masuk kategori ini. diantaranya adalah, Nias, Sumba
Tengah, Alor, Pulau Talibau, Nabire, Asmat, dan Pegunungan Arfak. Hal ini
berarti mereka yang tinggal di luar wilayah perkotaan khususnya 3T menghadapi tantangan
yang lebih besar dalam memperoleh akses pendidikan yang layak.
Melihat
kenyataan bahwa kualitas dan aksesibilitas pendidikan di Indonesia masih belum
merata dengan baik, pemerintah pada tahun 2024 menetapkan anggaran pendidikan
sebesar 20% dari total APBN 2024 atau senilai Rp660,8 triliun. Angka tersebut
merupakan yang terbesar sepanjang sejarah berdirinya republik ini. Sebagian
besar dari jumlah dana yang fantastis tersebut digunakan untuk belanja
pemerintah pusat, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) bagi 20,1 juta siswa,
Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah untuk 994,3 ribu mahasiswa, dan tunjangan
profesi bagi 553,5 ribu guru non-PNS sebesar Rp237,1 triliun. Sebanyak Rp305,6
triliun dialokasikan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi 43,7 juta
siswa, Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD bagi 6,2 juta siswa, dan
BOP Pendidikan Kesetaraan untuk 806 ribu peserta didik. Serta sisa dana sebesar
Rp69,5 triliun digunakan untuk dana abadi pendidikan, penelitian, perguruan
tinggi, dan kebudayaan.
Bertambahnya
besaran dana alokasi pendidikan dari APBN tersebut sudah pasti meningkatkan
arus aliran dana pajak untuk pengembangan pendidikan di daerah 3T. Aliran dana
pajak yang dialokasikan untuk pendidikan di daerah 3T memegang peranan penting dalam
memastikan bahwa setiap anak di Indonesia, tanpa memandang ras, suku, status
ekonomi, dan letak geografis memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
akses pendidikan yang layak sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang
negara.
Dana
pajak tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur
pendidikan, melakukan penyediaan dan pelatihan tenaga pengajar yang
berkualitas, penyediaan fasilitas pendukung seperti buku, alat tulis, komputer,
listrik, dan internet yang memadai, serta pemberian beasiswa bagi siswa yang
berprestasi guna mendorong motivasi belajar dan memberikan kesempatan bagi
anak-anak di wilayah 3T untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi.
Meskipun
peningkatan dana pajak untuk pendidikan di wilayah 3T yang telah menghasilkan
kemajuan, masih ada beberapa tantangan yang harus diatasi. Salah satunya adalah
aksesibilitas geografis yang menyebabkan distribusi bantuan tidak merata.
Solusinya meliputi pembangunan infrastruktur jalan dan listrik yang lebih memadai.
Selain itu, korupsi dan penyunatan dana dalam distribusi pendidikan juga
menjadi tantangan yang mengurangi manfaat dana untuk kemajuan pendidikan di
daerah 3T.
Saya
seorang guru di salah satu wilayah 3T. Saya mengatakan 3T karena sekolah kami
berada di salah satu wilayah kepulauan
di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Sekolah tempat saya bertugas
yakni SMAN 1 Buru yang terletak di Pulau Buru dan lokasinya tepat di tengah
hutan pepohonan karet. Mayoritas masyarakat berkebun pohon karet, nelayan,
guru, pegawai dan sebagai TKI di Malaysia. Sekolah kami selalu mendapat bantuan
dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Kami sangat bersyukur sekali karena
pemerintah pusat masih memberikan perhatian kepada sekolah kami. Tahun ini
sekolah kami mendapat bantuan berupa ruang UKS, ruang OSIS, ruang WC dan ruang BK. Hal ini bakal sangat
mendukung proses pembelajaran di kelas.
Ketika
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kuat, saya yakin akan menjadi
pondasi untuk majunya sekolah-sekolah di wilayah 3T. Dibutuhkan kerjasama semua
pihak untuk meningkatkan APBN tersebut. Pemerintah dan masyarakat Indonesia. Melalui promosi
mencintai produk dalam negeri ‘Love Indonesia’ salah satu cara paling cepat untuk
meningkatkan pendapatan negara Indonesia. Kemudian produk dalam negeri juga
dapat diekspor ke berbagai negara di
dunia dan jelas akan menjadi sumber pendapatan terbesar untuk APBN Indonesia.
Dengan demikian, majunya Indonesia adalah dengan majunya pendidikan di wilayah
3T. Hal ini akan terwujud apabila APBN Indonesia kuat untuk Indonesia maju
sebagai investasi terbaik untuk masa depan bangsa.
Referensi:
https://www.kompasiana.com/bayusutyiono8498/66816140ed6415071c199772/mengapa-dana-pajak-penting-untuk-pendidikan-di-daerah-3t-tertinggal-terdepan-terluar-sebuah-opini.
Diakses 14 Oktober 2025.



.jpeg)

