Postingan Populer

Senin, 13 Oktober 2025

Artikel (Opini)- APBN Kuat: Indonesia Maju di Sekolah 3T

Oleh: Hasan Asyhari, M.Pd.

Pembangunan nasional yang baik dan berkelanjutan bagi sebuah negara merupakan upaya untuk memaksimalkan peluang menuju masyarakat yang lebih maju dan sejahtera. Menurut data dari Bank Dunia, setidaknya terdapat tiga aspek mendasar yang harus terpenuhi dalam pembangunan nasional yakni, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi tantangan yang kompleks dalam mencapai pembangunan nasional, terutama dalam hal ketimpangan ekonomi, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan pemerataan akses pendidikan.

Dalam konteks pendidikan, pembangunan nasional di Indonesia tidak hanya mencakup tentang bagaimana meningkatkan kemampuan individu saja, akan tetapi merupakan sebuah fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, pembangunan fasilitas kesehatan yang inklusif, ketahanan pangan yang kokoh, serta stabilitas politik yang terjamin. Maka dari itu, terdapat istilah yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan tonggak utama dalam pembangunan bangsa.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas memiliki komposisi penduduk yang tersebar dan tidak terpusat di daerah perkotaan saja. Berdasarkan data dari BPS diperkirakan hanya 59,3% penduduk saja yang tinggal di wilayah perkotaan dan memiliki akses yang cukup baik untuk memperoleh layanan pendidikan. Hal ini berarti, hampir separuh dari total penduduk Indonesia tinggal tersebar di luar wilayah perkotaan yang memiliki akses pendidikan yang belum terjamin. Terlebih, sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah yang tergolong masuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Menurut Kemendikbudristek, dijelaskan bahwa daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) merupakan wilayah dengan kualitas pembangunan relatif rendah, di mana masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan daerah lain secara nasional, serta secara geografis berada di daerah terdepan dan terluar Indonesia. Berdasarkan Perpres No. 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal 2020-2024, terdapat 62 kabupaten yang masuk kategori ini. diantaranya adalah, Nias, Sumba Tengah, Alor, Pulau Talibau, Nabire, Asmat, dan Pegunungan Arfak. Hal ini berarti mereka yang tinggal di luar wilayah perkotaan khususnya 3T menghadapi tantangan yang lebih besar dalam memperoleh akses pendidikan yang layak.

Melihat kenyataan bahwa kualitas dan aksesibilitas pendidikan di Indonesia masih belum merata dengan baik, pemerintah pada tahun 2024 menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari total APBN 2024 atau senilai Rp660,8 triliun. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah berdirinya republik ini. Sebagian besar dari jumlah dana yang fantastis tersebut digunakan untuk belanja pemerintah pusat, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) bagi 20,1 juta siswa, Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah untuk 994,3 ribu mahasiswa, dan tunjangan profesi bagi 553,5 ribu guru non-PNS sebesar Rp237,1 triliun. Sebanyak Rp305,6 triliun dialokasikan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi 43,7 juta siswa, Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD bagi 6,2 juta siswa, dan BOP Pendidikan Kesetaraan untuk 806 ribu peserta didik. Serta sisa dana sebesar Rp69,5 triliun digunakan untuk dana abadi pendidikan, penelitian, perguruan tinggi, dan kebudayaan.

Bertambahnya besaran dana alokasi pendidikan dari APBN tersebut sudah pasti meningkatkan arus aliran dana pajak untuk pengembangan pendidikan di daerah 3T. Aliran dana pajak yang dialokasikan untuk pendidikan di daerah 3T memegang peranan penting dalam memastikan bahwa setiap anak di Indonesia, tanpa memandang ras, suku, status ekonomi, dan letak geografis memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses pendidikan yang layak sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang negara.

Dana pajak tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur pendidikan, melakukan penyediaan dan pelatihan tenaga pengajar yang berkualitas, penyediaan fasilitas pendukung seperti buku, alat tulis, komputer, listrik, dan internet yang memadai, serta pemberian beasiswa bagi siswa yang berprestasi guna mendorong motivasi belajar dan memberikan kesempatan bagi anak-anak di wilayah 3T untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Meskipun peningkatan dana pajak untuk pendidikan di wilayah 3T yang telah menghasilkan kemajuan, masih ada beberapa tantangan yang harus diatasi. Salah satunya adalah aksesibilitas geografis yang menyebabkan distribusi bantuan tidak merata. Solusinya meliputi pembangunan infrastruktur jalan dan listrik yang lebih memadai. Selain itu, korupsi dan penyunatan dana dalam distribusi pendidikan juga menjadi tantangan yang mengurangi manfaat dana untuk kemajuan pendidikan di daerah 3T.

Saya seorang guru di salah satu wilayah 3T. Saya mengatakan 3T karena sekolah kami berada di salah  satu wilayah kepulauan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Sekolah tempat saya bertugas yakni SMAN 1 Buru yang terletak di Pulau Buru dan lokasinya tepat di tengah hutan pepohonan karet. Mayoritas masyarakat berkebun pohon karet, nelayan, guru, pegawai dan sebagai TKI di Malaysia. Sekolah kami selalu mendapat bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah  RI. Kami sangat bersyukur sekali karena pemerintah pusat masih memberikan perhatian kepada sekolah kami. Tahun ini sekolah kami mendapat bantuan berupa ruang UKS, ruang OSIS, ruang  WC dan ruang BK. Hal ini bakal sangat mendukung proses pembelajaran di kelas.

Ketika APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kuat, saya yakin akan menjadi pondasi untuk majunya sekolah-sekolah di wilayah 3T. Dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk meningkatkan APBN tersebut. Pemerintah  dan masyarakat Indonesia. Melalui promosi mencintai produk dalam negeri ‘Love Indonesia’ salah satu cara paling cepat untuk meningkatkan pendapatan negara Indonesia. Kemudian produk dalam negeri juga dapat diekspor ke  berbagai negara di dunia dan jelas akan menjadi sumber pendapatan terbesar untuk APBN Indonesia. Dengan demikian, majunya Indonesia adalah dengan majunya pendidikan di wilayah 3T. Hal ini akan terwujud apabila APBN Indonesia kuat untuk Indonesia maju sebagai investasi terbaik untuk masa depan bangsa.

 

Referensi:

https://www.kompasiana.com/bayusutyiono8498/66816140ed6415071c199772/mengapa-dana-pajak-penting-untuk-pendidikan-di-daerah-3t-tertinggal-terdepan-terluar-sebuah-opini. Diakses 14 Oktober 2025.

Senin, 23 Oktober 2023

Aksi Nyata Modul 1.4 - Forum Berbagi Aksi Nyata

TUGAS

1.4.a.9.1. Aksi Nyata Modul 1.4 - Forum Berbagi Aksi Nyata

Oleh :

Hasan Asyhari, M.Pd., Gr.

(CGP A.8/PGP A.9 SMAN 1 Buru Kab. Karimun)



 Fasilitator         : Sarmatua Pardosi, M.Pd.

Pengajar Praktik: Lidiyana, S.Pd.


1. Latar Belakang

Karakter anak-anak kita saat ini baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar benar-benar jauh dari nilai-nilai kebajikan yang diharapkan, padahal sekolah sudah menerapkan budaya positif namun belum maksimal dan masih perlu dibenahi karena tidak sesuai dengan kebutuhan murid pada umumnya. Pada abad 21 ini pengaruh budaya luar dan lingkungan sangat berpengaruh merusak karakter generasi masa depan anak-anak kita. 

Oleh karena itu, guru memiliki peranan penting dalam merancang sebuah strategi yang efektif dan berpihak pada murid untuk menentukan arah dan tujuan pendidikan agar murid tidak salah arah. Menurut saya, penerapan disiplin positif merupakan unsur utama dalam pencapaian tujuan pendidikan merdeka belajar karena penerapan disiplin positif dapat mendorong tumbuhnya karakter yang lebih kuat pada murid sesuai dengan profil pelajar Pancasila. 


2. Tujuan

Tujuan aksi nyata ini diantaranya yaitu:

ü  Menciptakan murid yang merdeka belajar dan mewujudkan profil pelajar pancasila.

ü  Menumbuhkan budaya positif.

ü  Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid.

ü  Menumbuhkan budi pekerti.

ü  Mengajarkan murid mencari solusi dari suatu permasalahan.


3. Linimasa Tindakan

Aksi nyata budaya positif ini direncanakan dalam beberapa tahapan, antara lain:

ü  Berkoordinasi dengan kepala sekolah tentang pentingnya penanaman budaya positif di sekolah serta meminta izin untuk melakukan diseminasi pada rekan sejawat.

ü  Membuat keyakinan kelas bersama semua warga kelas. 

ü  Melakukan kegiatan diseminasi pada teman sejawat.

ü Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat membuat keyakinan-keyakinan kelas melalui kesepakatan di kelasnya masing-masing.

ü  Memantau, merefleksi, dan mengevaluasi kesepakatan kelas yang telah dibuat. 


4. Deskripsi Aksi Nyata

Kegiatan aksi nyata diawali dengan membuat keyakinan kelas bersama murid khusus murid kelas X.1  yang saya ampu. Kegiatan ini diikuti oleh murid dengan sangat antusias dalam menuliskan dan menyakini nilai-nilai kebajikan untuk menciptakan disiplin positif terutama di kelas X.1. Kegiatan selanjutnya yaitu diseminasi Budaya Positif yang dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 16 Oktober 2023 di SMAN 1 Buru Kecamatan Buru Kabupaten Karimun. 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh kepala sekolah dan rekan guru SMAN 1 Buru. Kegiatan diseminasi budaya positif ini yaitu menginformasikan pemahaman tentang materi modul 1.4 budaya positif yang konsep utamanya tentang perubahan paradigma belajar, disiplin positif, kebutuhan dasar manusia, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Peserta diseminasi sangat antusias dalam menyimak pemaparan materi yang saya sampaikan. 

Kegiatan aksi nyata selanjutnya, yaitu saya akan mengajakan warga sekolah khususnya wali kelas agar dapat menerapkan dalam membuat kesepakatan atau keyakinan kelas di kelasnya masing-masing. Selain itu juga mengajak untuk  mempraktikan posisi kontrol guru sebagai manajer dan menerapkan segitiga restitusi jika ada muridnya yang menemui masalah demi mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah.

 

5. Hasil dari Aksi Nyata

Hasil dari rangkaian kegiatan aksi nyata yang telah saya lakukan yaitu menumbuhkan pemahaman kepada rekan sejawat khususnya pendidik dan tenaga kependidikan  di sekolah mengenai penerapan budaya positif. Kegiatan dimulai dengan disiplin positif di lingkungan kelas dengan membuat keyakinan kelas yang disepakati bersama-sama. Selain itu juga mulai diterapkan disiplin positif dengan restitusi. Hasil dari aksi nyata ini bisa dikatakan berhasil  dan menciptakan perubahan meskipun  harus dilakukan  secara kontinyu dan berkesinambungan dalam penerapannya.  Murid telah menunjukkan disiplin positif sesuai dengan keyakinan kelas yang telah disepakati bersama. Kendala yang dihadapi  yaitu mudahnya terpengaruh oleh teman dan lingkungan  sekitarnya sehingga budaya positif yang telah ditetapkan harus selalu diingatkan nilai-nilai kebajikan yang telah diyakini oleh murid.

 

6. Pembelajaran  yang Di dapat dari Aksi Nyata

Kegiatan aksi nyata modul 1.4 budaya positif ini, banyak pembelajaran yang saya dapatkan sebagai Calon Guru Penggerak yaitu salah satunya nilai kebersamaan. Karena kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan sendirian tanpa adanya dukungan dari pihak lain yaitu rekan sejawat. Dalam penerapan budaya positif di sekolah juga perlu adanya koloborasi dengan warga sekolah agar dapat tercipta dengan baik.


7. Rencana Perbaikan dan Pengembangan di Masa Mendatang

Rencana perbaikan dan pengembangan di masa mendatang diantaranya yaitu:

ü  Mengevaluasi keyakinan kelas yang telah dibuat secara berkala.

ü  Menempatkan diri pada posisi kontrol manager secara konsisten dan berkelanjutan.

ü  Menerapkan segitiga restitusi  pada masalah yang muncul.

ü  Berkolaborasi dengan semua pihak terkait demi terciptanya budaya positif.

 

8. Dokumentasi

ü  Kegiatan Membuat Keyakinan Kelas

ü  Kegiatan Diseminasi dengan Rekan Sejawat

ü  Kegiatan Penerapan Segitiga Restitusi

 



























KEYAKINAN KELAS


 

 

 

 

 

 

 

 






DISEMINASI DENGAN REKAN SEJAWAT


 

 

 

 

 

 

 






 

 






PENERAPAN SEGITIGA RESTITUSI


 

Kamis, 12 Oktober 2023

Portofolio Digital Calon Guru Penggerak

Assalamu'alaikum, 

salam semangat Guru Hebat !

Berikut adalah contoh dari portofolio digital yang saya buat dalam rangka program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan 9. Selamat mengakses link berikut ini :

https://sites.google.com/guru.sma.belajar.id/hasanasyharicgp8karimun/beranda

Terimakasih!

Contoh RPP Mata Pelajaran Sosiologi untuk Simulasi Mengajar Calon Guru Penggerak

Assalamu'alaikum, Semangat Pagi Bapak/Ibu Guru Hebat.

Berikut saya kirim contoh RPP Mata Pelajaran Sosiologi untuk Simulasi Mengajar Calon Guru Penggerak (CGP). RPP ini saya buat untuk mengikuti SM saat seleksi CGP angkatan 8 dan Alhamdulillah dinyatakan lulus. Silakan mendownload pada link ini: 

https://docs.google.com/document/d/1EisKVwkLYV6EdP9znwN3mv-KiElEnook/edit?usp=drive_link&ouid=102642444099331333770&rtpof=true&sd=true

Terimakasih!

Kamis, 28 September 2023

Artikel : Perkuat Kearifan Lokal dengan Momen Hari Bahasa Ibu

 

Sumber : google.com (28/09/2023)
Bahasa merupakan salah satu unsur budaya universal seperti yang dikemukakan oleh seorang antropolog bernama C. Kluckhohn. Dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture dan terbit tahun 1953, beliau menempatkan bahasa sebagai budaya universal. Walau seprimitif kebudayaan suatu masyarakat, tetap memiliki unsur bahasa. Yang membedakannya adalah tingkat kekompleksitasnya. Semakin modern kebudayaan suatu masyarakat, maka semakin berkembang bahasanya. Bahasa yang berkembang itu juga menentukan sikap masyarakat dalam bertingkah laku. Bahasa di dunia sangatlah banyak. Mulai dari bahasa internasional hingga bahasa tradisional, itu lah yang dikenal dengan bahasa ibu atau bahasa daerah tempat lahir hingga dewasa yang dialami seseorang. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga agar bahasa ibu tetap ada, salah satunya melalui peringatan hari bahasa ibu internasional.


Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother’s Language Day). Masih banyak orang yang belum tahu akan momen peringatan tersebut. Masyarakat Indonesia terkhusus pegiat media sosialpun masih banyak yang tercengang. Saat penulis mengunggah di status whatapps yang pamflet online tentang peringatan hari bahasa Ibu yang diposting admin Instagram @Kemdikbdud.ri melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ada beberapa teman di kontak  whatapps yang bertanya, kemudian penulis menjawab sepengetahuan penulis. Momen peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional tepat digelar tanggal 21 Februari kemarin di seluruh penjuru dunia. Hari Bahasa Ibu Internasional sudah sejak 17 November 1999 ditetapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebagaimana dilansir dari http://citizen6.liputan6.com., momen peringatan hari Bahasa Ibu Internasional dilatarbelakangi pada tragedi tanggal 21 Februari 1952, mahasiswa dan masyarakat di Bengali Timur (sekarang Bangladesh) turun ke jalan untuk memprotes peminggiran bahasa Bengali oleh pemerintah pusat Pakistan yang hanya mengakui bahasa Urdu. Sejumlah mahasiswa tewas menjadi korban kekerasan aparat dalam gerakan bahasa tersebut. Karena itulah, UNESCO memilih tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Lewat peringatan tersebut, UNESCO tahun ini mengulangi kembali komitmennya terhadap keragaman bahasa dan mengundang negara-negara anggotanya untuk merayakannya sebanyak mungkin. Hal tersebut juga sebagai pengingat bahwa keragaman bahasa dan multilingualisme sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan. Itu sekilas sejarah kemunculan istilah peringatan hari bahasa ibu internasional. Banyak negara yang memperingatinya sebagai wujud rasa empati terhadap peristiwa tersebut, terkhusus di Indonesia.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas ratusan suku bangsa baik besar maupun kecil. Keberagaman suku bangsa membuat Indonesia memiliki bahasa yang beragam pula. Bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masayarakat dalam suku bangsa tersebut. Sebut saja Bahasa gayo di Aceh, bahasa Minang di Sumatera Barat, bahasa batak di Sumatera Utara, bahasa Sunda di jawa Barat, bahasa betawi di DKI Jakarta, bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga bahasa Papua di Papua. Selain dari bahasa umum tiap daerah atau provinsi, tiap sub suku bangsapun memiliki bahasa dengan pemaknaan yang berbeda. Seperti di Sumatera Barat, ada yang memaknai cape atau lelah atau letih dengan sebutan “litak.” Namun, di daerah lain di Sumbar kata “litak” berarti lapar (belum makan). Adanya perbedaan makna dalam bahasa tiap suku bangsa dan daerah di Indonesia, menunjukkan keunikan budaya lokal yang dikemas dalam konsep “multilingualistik atau multilingualisme.” Perbedaan makna dalam bahasa ini juga menentukan sikap berperilaku masyarakat setempat. Ketika masyarakat menafsirkan “litak” sebagai lapar, sebagian masyarakat menafsirkan “litak” sebagai letih atau lelah. Bukti lain, di Papua dengan bahasa umum Papua menyebut saya dengan sebutan “sa atau za,” kata pergi dengan sebutan “pi.” Bahasa-bahasa seperti itu yang perlu dilestarikan sehingga tidak punah di makan zaman. Penggunaan bahasa ibu di tiap lingkup keluarga, membuktikan bahwa keluarga salah satu agen pewaris bahasa Ibu.

Fenomena miris penggunaan bahasa ibu juga cenderung terjadi di daerah perantauan. Kerika si anak dilahirkan di daerah rantauan, tinggal dan besar di daerah rantauan. Kemirisan terjadi ketika orangtua tidak mau mengajari bahasa daerah (ibu) di dalam keluarga di rumah.  Dengan begitu, jelas si anak tidak bisa mengenal bahasa ibunya. Namun, sebagian keluarga di perantauan, masih menggunakan bahasa ibu terhadap anak-anaknya di rumah. Walau logat bahasa Ibu tidak begitu kental, tapi setidaknya sudah mampu menanamkan nilai-nilai kearifan bahasa lokal pada diri si anak. 

Fenomena peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Indonesia. Sebagaimana yang saya lansir dari website Tribun Jateng. Di Karang Taruna RW 03, Jatiwayang, Kelurahan Ngemplak, Simongan, Kota Semarang menggelar kegiatan peringatan hari bahasa ibu internasional.. Kegiatan tersebut bertajuk “bahasa Ibu Ora Wagu.” Dalam kegiatan tersebut, panitia acara menyuguhkan pertunjukan kepada anak-anak sekitar dengan bahasa Jawa. Melalui pertunjukan tersebut akan dapat merangsang anak-anak mengenal kembali bahasa daerahnya. Bahasa Ibu memiliki nilai yang sangat kuat di masyarakat. Mengenalkan budaya dan bahasa Ibu  ke anak-anak dianggap sangat perlu dilakukan. Mengingat perkembangan arus globalisasi, ketika tidak diimbangi penanaman budaya (bahasa) lokal, bisa membuat bahasa tersebut hilang begitu saja. Serta bisa jadi anak-anak kehilangan ruh untuk menggali dan menggunakan bahasa lokal tersebut.  Pentingnya budaya bagi masyarakat Jawa, seperti  saling menghormati. Ewuh pewekuh, tepo seliro, empan mapan merupakan budaya yang melekat sudah lama yang harus diterapkan dan dilakukan. Makna dari istilah Jawa tersebut adalah dalam hidup harus saling bertoleransi sesame manusia lain.
 
            Dengan begitu momen peringatan hari bahasa ibu internasional, membuat orang kembali sadar akan bahasa ibu atau bahasa lokal setempat yang konon dianggap biasa, namun sangat berharga demi masa depan bangsa Indonesia sehingga kearifan budaya lokal Indonesia terutama bahasa ibu dapat kokoh di tengah pesatnya pengaruh zaman.

Selamat bergabung di blog 'Catatan Guru Pulau'

 Assalamu'alaikum, wr.wb.

Saya Hasan Asyhari, M.Pd., Gr. merupakan pemilik sekaligus pengelola blog 'Catatan Guru Pulau' ini sebagai sarana (wadah) berbagi informasi dengan latar saya sebagai guru. Semoga bermanfaat dan menginspirasi!

Buru, 28 September 2023

HASAN ASYHARI, M.Pd., Gr.

Artikel (Opini)- APBN Kuat: Indonesia Maju di Sekolah 3T

Oleh: Hasan Asyhari, M.Pd. Pembangunan nasional yang baik dan berkelanjutan bagi sebuah negara merupakan upaya untuk memaksimalkan peluang...